Monday, 22 January 2018

Life is About Take & Give

Beberapa waktu lalu, aku sama temenku sebut saja si A, kita lagi nungguin temenku di dalem mobil. Kita nungguin di depan gedung fakultasku di hari minggu yang notabene itu sepi banget. Tiba-tiba dari luar ada yang ngetuk kaca mobil, aku kira temen aku, ternyata seorang ibu cukup sehat dan muda mengendarai sepedah ontel sekitar umur 30-an or something. Awalnya aku pikir dia mau nanya sesuatu, entah nanya jalan, atau apapun. Ternyata beliau menodongkan tangan dan minta uang, seketika kaget dong. Dikasihlah uang sama temenku. Seperti biasa dia bilang makasih terus pamit.
Aku harus mikir 4 kali buat memutuskan ngasih uang ke orang yang menurutku masih sehat dan tinggal nyodorin tangan. Karena kita nggak pernah tau uang kita larinya ke mana.
Beberapa menit kemudian, kita papasan ketemu lagi sama ibunya yang lagi nyantolin satu plastik beras ke sepedah ontelnya. Temenku langsung nyeletuk "oh, dibuat beli beras."
Karena penasaran aku mengajukan pertanyaan, kenapa dia bisa ngasih uang ke orang yang menurutku cari kerja aja masih sanggup banget. Temen aku nih ngejawabnya, "Kita manusia di dunia ada saatnya berada di roda paling atas, dan roda paling bawah. Aku nggak bilang aku lagi ada di roda paling atas, seenggaknya aku bisa ngasih uang ke orang yang butuh. Mungkin aja itu bukan rezekiku, mungkin aja itu rezeki orangnya lewat aku, yaudah. Kalo masalah dia ngemis nggak bisa kerja yaudah itu urusannya uangnya mau dikemanain, mau dibuat beli kebutuhan atau hal buruk sekalipun itu masalahnya sama Tuhan. Yang penting mah kita udah ngasih. Hidup itu soal memberi dan menerima."

Aku langsung diem aja.
Sekaku itu kah aku. Bikin pemikiran yang sebenernya nggak pernah kejadian.
Aku jadi keinget. Dulu aku pernah makan di warung kaki lima, tiba tiba ada seorang mbak mbak yang umurnya 25an minta uang maksa dengan alasan anaknya lagi sakit. Yang bikin aku nyesel, waktu itu aku nyuekin dan beralih bilang ke temenku menyayangkan fisiknya yang masih fit. Padahal kita nggak pernah tau keadaan yang sebenernya mbak mbak tadi. Astaghfirullah.

Ada beberapa cerita juga kejadian dalam jangka waktu dekat. Jadi, aku sama mbakku jalan di deket komplek rumah pukul 9 malam dan kita menemukan ada sosok bapak penyandang cacat jualan semacam lampu oblik, awalnya kita berniatan mau beli tapi kita lagi nggak bawa uang. Besoknya, ada seseorang yang me-viral-kan keadaan si bapak, orang tersebut cerita kalo bapak ini bukan asli surabaya dan sebagainya. Besoknya lagi, kita berniatan beli cari bapaknya. Bertemulah kita sama si bapak ini. Lampu oblik yang berbahan bakar minyak goreng atau lilin ini bener bener useful. Ada pembeli lain cuma ngasih uang aja, dan seketika si bapak bilang ke pembeli, "mohon maaf pak, saya nggak minta-minta." It does touch my heart.

Kita di dunia banyak banget dikasih pelajaran. Yang aku percaya, kita bisa belajar dari siapapun, di manapun, kapanpun. Nggak sedikit orang yang punya pikiran mulia, buat sekedar nolong orang lain.
Don't expect to receive if you're not willing to give. Menurutku ini cukup fair. Memberi dan menerima adalah sesuatu yang seimbang. Yang bikin saya sadar, kita ini bukan pemberi rezeki, rezeki udah diatur sama Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhanlah sang pemberi rezeki. Jadi nggak usah pernah khawatir.

Sunday, 21 January 2018

What You Need To Do Is Make One Person Happy; You.

Mencintai diri sendiri itu ternyata perlu banget, lho.

Dulu, yang aku lakuin cuma berusaha biar orang-orang di sekitar bisa nyaman dan seneng buat sekedar berada deket sama aku. Tapi salah banget sih ini. Aku aja nggak nyaman dan seneng sama diri sendiri. That's the key.

Saya jadi inget kata para pramugari pas lagi safety-instruction.
"Pasang masker oksigen anda terlebih dahulu sebelum menolong orang lain."

In other words:
If you cannot take care of yourself, you are not able to take care of others.

Simply but often forgotten, do not forget to fall in love with yourself first, then you can make sombody else to love you.

Kadang heran, ruh kita dikasih badan yang sempurna, tapi buat ngejaga aja susah banget. Entah kamu melukai dirimu sendiri, merusak dirimu sendiri. Dengan kata lain, belajarlah berdamai dengan dirimu sendiri, belajarlah menghargai dirimu sendiri, pasti semesta bakal ngikutin.

Be happy for and from yourself.
Try to not expect happiness from others, percaya bahwa diri sendiri mampi memberi kebahagiaan dari siapapun. Love yourself before you let them love you. Karena memiliki cinta dari diri sendiri itu jauh lebih penting.
Supaya ketika kamu kehilangan mereka, kamu nggak akan kehilangan dirimu sendiri juga.

Sometimes, Looking Back is The Answer to Moving Forward

Emang kadang nengok ke belakang itu diperlukan banget buat ngelihat seberapa jauh kita ngelangkah sekarang, dan melihat versi lama akan diri kita yang perlu diperbarui dan diperbaiki.

Let's say when I was in relatioship a year ago.

Aku tuh tipe orang yang banyak maunya. Suka berharap hal-hal yang nggak biasa. Dan pas itu nggak kejadian, aku marah bukan main. Pas aku marah, aku lebih banyak diem, sabodo teuing sama keadaan, separah itu.
Aku baru pertama kali ini menyeriusi sebuah hubungan. I never learn before. Jadi aku nggak pernah tau apa yang orang lain mau. Jadi suatu hubungan harus jalan sesuai sama apa yang aku mau.
Aku tipe orang yang terlalu banyak menyalahkan. Bukan menyalahkan sih, karena sesuatu nggak sesuai sama kehendak kita. Aku terlalu nunjukkin perasaan yang berlebihan. Kalo aku nggak setuju, langsung marah. Kalo cemburu, aku marah.
Dan satu hal yang paling aku inget yang selalu diomongin sama mantan pacarku dulu, terlalu mikir suatu hal yang negatif yang sebenernya nggak kejadian.

I was in meditation, mikirin diri sendiri for a long time. Aku bisa sampe di titik ini di mana aku belajar banyak dan sadar apa yang aku lakuin itu sepenuhnya nggak bener ya karena suatu kejadian pasti bikin kita belajar.
My ex talk bad about me to others. My friend said it to me.
Awalnya sebel sih, sebel banget, i want to explain that i'm not the person yang kaya mantan saya pikirin. Tapi buat apa? itu bakalan nambah penyakit hati. Timingnya pas buat aku untuk introspeksi diri biar aku bisa memperbaiki diriku sendiri.

Hubunganku terdahulu dimulai dari sebuah chatting di salah satu platform dunia maya dengan keadaan non-stop. Dari pagi sampe pagi yang kita lakuin cuma chatting. Yang aku lakuin juga cuma bener - bener stay di kasur nungguin chat yang sebenernya itu itu aja tapi saya seneng banget.
Yah, mungkin zona waktu kita beda. Dia lebih sadar duluan kalo kita nggak perlu segininya. Waktu itu aku lagi bener - bener sendirian. Tinggal sendiri, ngapa-ngapain sendiri, yaudah saya ngerasa kesepian. Yang aku pikirin, aku seneng ngelakuin banyak hal sama dia dan aku ngerasa hidup. Pas dia bilang kalo kita harus membatasi jarak karena dia butuh ruang, aku serasa kaya kebunuh sama waktu. Aku nggak setuju sama statementnya dia. Karena aku nggak mau kalah, aku bikin statement di mana aku harus tau apapun yang dia lakuin dan sebagainya. Di keadaan ini makin keliatan banget. Aku yang super posesif, dan dia milih buat ngalah sampe akhir. Yang kaya aku bilang tadi, zona waktu kita beda. Tapi yang aku sayangin di sini, dia bener-bener ngalah, nggak mau tau keadaanku yang sebenernya. Padahal dari awal kita udah janji buat saling memperbaiki, tapi yang aku lakuin di sini ya memperbaiki diriku sendiri. Dia nggak mencoba menjelaskan suatu masalah karena menurutnya dia itu buang - buang waktunya dia. Yang dia pikirin cuma satu, dia ngerasa dia nggak punya pilihan. Mau ngelakuin A, mau ngelakuin B, sampai Z pun menurut dia bakalan salah di mataku, jadi mending dia diem aja ngalah daripada harus aku marahin apalagi buang - buang tenanga buat tengkar. Aku ngerasa kaya capek sendirian.

Poin yang aku ambil dari sini, kita ngejalanin hubungan berdua, atas seijinku atas seijinnya dia. Kita terlalu pengen dingertiin satu sama lain tapi kita nggak ngertiin satu sama lain.
Dan aku sampe di titik di mana aku tau apa yang harus aku lakuin.
Aku sadar kalo nggak semua orang harus ngikutin kehendak kita. Aku sadar kalo setiap orang punya batas yang harus kita ngertiin dan kita pahamin. We were two differrent persons yang nggak bisa bersatu. Kita cuma mutusin cuma saling mengenal satu sama lain karena kita ngerasa nyaman di awal dan kita bukan suami istri. What we should do is support whatever they want to do.

Kalo buat dibilang move on, aku udah move on. Move on itu bukan sesuatu yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Aku move on dari versi lamaku. Aku bisa di titik ini jadi seseorang yang baru yang berusaha melihat semua hal dari dua sisi. Mencoba untuk mengontrol emosi dengan baik dan mengurangi penyakit hati. Aku sampe di zona waktunya dia saat itu.

Aku nggak bisa bilang kalo apa yang aku ungkapin ini semuanya benar. What a lesson. Sebuah pelajaran berharga di hidup.

Tuesday, 9 January 2018

Berdamai dengan masa lalu

Satu minggu lalu waktu itu, saya bertemu teman saya. Kami cerita banyak hal. Dia cerita banyak hal yang disampaikan oleh temannya mengenai saya. Temannya teman saya dulunya adalah sahabat baik saya. Karena beberapa alasan, kami terpaksa tidak berhubungan lagi.

Banyak hal yang diceritakan oleh sahabat saya ke teman saya. Hanya hal buruk yang dipikirkan. Alay, jijik, jahat, dan hal tidak baik lainnya keluarlah dari mulutnya. Marahlah saya, menurut saya, seseorang yang kenal saya dalam jangka waktu lama, yang hampir setiap hari bersama, bertemu, bahkan berbicara, menjadi seseorang yang angkuh, arogan, jahat. Terlalu terlena oleh ego juga tidak baik. Saya benar - benar marah. Saya seperti jatuh ke lubang paling dalam. Banyak hal yang ia tak tahu, tetapi menjustifikasi hal yang bahkan ia tidak tahu alasannya sama sekali. Dude, some things happen for a reason.

Hal yang membuat saya lebih marah lagi karena masuknya orang lain ke suatu permasalahan. Dia marah karena saya melakukan hal yang bahkan ia tidak tahu alasannya, dan dengan mudah ia melontarkan kata yang seharusnya tidak diucapkan. Dan hal ini juga terjadi karena hal yang dulu menurutnya tidak penting, Instagram. I blocked his friend's Instagram account. Dude, shit happens for a reason.

Saya memendam marah. Ke pada diri saya sendiri, ke pada sahabat saya terdahulu. Berhari - hari. Ingin minta penjelasan. Kalaupun suatu status bisa mengubah suatu keadaan, dari awal saya tidak akan mengambil keputusan. Saya lumayan terpuruk. Hal yang anda pikir ke depannya akan lebih baik, ternyata di sisi lain tidak menginginkan adanya perbaikan hubungan pertemanan.

Tapi saya sadar, tidak seharusnya saya marah. Semua hal terjadi karena campur tangan adanya diri saya sendiri juga. Dia masuk ke hidup saya, dia meninggalkan saya, atas persetujuan saya. Saya mencoba berdamai dengan diri saya sendiri. Saya menemukan titik di mana hal ini bukanlah sesuatu yang harus dimenangkan atau menjadi kalah nantinya.

Saya mulai belajar berdamai dengan masa lalu. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu terjadi karena hal yang kita kehendaki. Do not worry about what you cannot control. Semua hal butuh waktu. Saya tahu anda juga butuh waktu untuk memperbaiki banyak hal karena banyak hal yang saya rusak. Saya juga begitu. Saya butuh waktu untuk mengikhlaskan dan merelakan. Kalaupun nantinya anda berpikir bahwa saya kalah karena saya adalah satu - satunya orang yang memaafkan dan anda menang karena sudah sepenuhnya bebas untuk tidak memikirkan hal tentang saya, then i rather be a loser.

Banyak hal yang anda tidak ketauhi dan anda ukur menurut penilaian anda. Bad things happen, and you'll never know how people cure the pain. Bahkan untuk membuat saya membenci anda rasanya susah. Tell bad things about me to others, because i'll do nothing. Mau saya ngejelasin apapun, saya bakal tetap salah. Hal yang membuat anda berpikir bahwa anda selalu salah di mata saya.
If you think that the past never changed, then you're wrong.
i suffered because of you,
i learned from you,
and i changed for myself.

Jika memilih anda di hidup saya adalah suatu kesalahan dan kekalahan.
Saya lebih memilih untuk menjadi seseorang yang salah dan kalah.

Tuesday, 26 December 2017

Banyak Cemas, Banyak Rindunya.

Pernah nggak sih kalian kangen banget sama seseorang? Iya, they said if you miss someone then tell them, meet them. Tapi, ada situasi di mana pas kita kangen banget sama orang tapi kita nggak bisa ngungkapin, bahkan nggak bisa ketemu, ya karena suatu alasan. How pathetic.
Some things happen for some reasons, yang kadang sebenernya kita juga nggak pernah menghendaki hal itu buat kejadian. Tapi gimana lagi? we can't control everything.

How does it feel? You miss someone, but they don't even care about you. Kangen sendirian, kepukul sama kenangan yang ngajak ribut karena datengnya bareng - bareng? Doesn't it make you sad?
Di mana keadaan yang nggak pernah memungkinkan buat mengungkapkan, karena setiap kita ngungkapin, ternyata apa yang kita lakuin nggak pernah diharepin sama orang tersebut.

Kadang saya belajar mengikuti maunya hidup, saya berusaha buat let it flow karena saya nggak pernah mau memakasakan diri. Karena tiap saya maksain diri saya sendiri, saya nyakitin diri saya terus terus terus.
How does it feel? Unwanted by someone you loved the most?
Hal - hal yang kita lakuin jadi salah di mata dia. Because we are being unwanted.
When you uploaded some instagram story and you try to tell him that you're so sorry because you're losing him, but then he thought that it doesn't make sense and he thought that you're disturbing him.
When you were trying to make instagram story and you thought he would be fine about this, then he replied your instagram story, you thought he tried to fix everyting, as a good good good bestfriend. But then you know the fact that he just replied, because he thought you want some replies by him.
You want to tell him, but you forgot, he doesn't even care about you.
Everything seems so wrong.
Dampaknya? You mad at yourself, you blame yourself. You cry to your sleep every night.
Does it look to much? But we never know how someone's struggling.

Saya lupa, kalau setiap orang bisa berubah. Teman bisa jadi musuh, begitu sebaliknya. Jauh menjadi dekat, begitu sebalinya. Pernah sedekat nadi, begitu sebaliknya. Yang saya anggap teman terbaik saya, ternyata bisa berubah menjadi orang yang jahat.
Saya pikir ketika orang marah dengan orang lain, and they try to remember what they have done, everything would be ok. Ketika seseorang muak dengan orang lain, mereka akan mengingat hal baik, and everything will be okay. Ternyata saya salah.
Kita nggak bisa mengatur semua hal jadi kaya apa yang kita pengen. Kita nggak bisa maksain orang lain buat ngelakuin apa yang kita pengen.

Saya belajar banyak tentang kehilangan. Saya belajar banyak tentang mengikhlaskan, atau merelakan. Saya belajar banyak untuk memandang sesuatu tidak hanya dari satu sisi. Saya belajar banyak bagaimana cara menghargai diri sendiri serta keputusan orang lain. Saya belajar banyak untuk memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi saya tidak pernah belajar, bagaimana cara untuk berdamai dengan diri saya sendiri.

How does it feel? When someone you loved the most turn into someone you hate the most, and now you are missing him so much?
You cant control it, but God can do everything.
Tell God, pray to God, for him, for his life, for everything the good.
That's all.