Thursday, 11 September 2014

Bagaimana Jika?

Saya punya cerita.
Ada seorang perempuan. Tidak cantik, tidak populer, tidak begitu cerdas, tetapi memimpikan seorang lelaki cerdas.
Suatu hari, dia bertemu dengan kakak kelasnya. Tinggi dan tegap perawakannya, kecerdasan yang terlihat dari aura wajahnya. Sebut saja si perempuan itu Mawar, dan si laki-laki (kakak kelasnya) Jono.

Mawar serasa sedang mengagumi seseorang begitu cepat, dari pandangan pertama. Karena begitu penasaran, Mawar mencari informasi mengenai kakak kelasnya, Jono. Dari social media atau dari manapun. Dia mulai menguntit semua akun social media Jono.

Dari hari ke hari, mawar hanya bisa memandang secara diam-diam, tersenyum saat Jono lewat di depannya. Dan melakukan hal konyol ketika di dekat Jono. Tetapi, Jono tidak pernah menyadarinya. Sampai sekarang.




.
.
.
.
.




Sampai suatu saat ketika Jono lulus, Mawar mencoba memberanikan diri menyapa dan memberi selamat atas kelulusan yang diraih Jono. Mawar memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan.
Jono hanya tersenyum.
Dia bilang...
"Maaf, aku ngga bisa. Aku ngga punya perasaan yang sama."
Mawar hanya terdiam, tatapan matanya yang kosong menatap ke depan, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
Dan kemudian, Jono berlalu.
Meninggalkan Mawar sendiri.
semenjak itu mereka tidak pernah bertemu kembali.

.......


Ceritanya belum selesai.
Setelah fase meratapi nasib selesai, si wanita akhirnya lulus SMA dan masuk ke salah satu perguruan tinggi favorit. Dia memang tidak pintar, tetapi dia berusaha.
Di lulus cumlaude. Dan akhirnya bekerja di sebuah perusahaan bergengsi di ibu kota. Seorang wanita karier dengan pendapatan tinggi. Percaya diri yang dibangun selama kuliah dan di dunia kerjanya membuat dia melambung tinggi di atas. Tidak ada lagi tampilan perempuan kuper ketika jaman SMA.
Si Perempuan bertemu seorang pria di daerah kantornya. Saling mengenal, bahagia.
Lalu apa kabar Si Jono?
Adakah Si Jono dalam hidupnya?
Saya tidak tahu. Dan saya rasa dia juga tidak peduli.
She's happy now, pursuing her own happy ending. And that's all that matters.

........


Cerita di atas sebagian saya ambil dari kisah nyata, sebagian lagi adalah motivasi. Dari sini saya juga bisa memotivasi diri saya sendiri. Tidak ada yang tidak mungkin. Tuhan itu adil.
Kamu tidak bisa mengharapkan orang lain untuk mengubah hidupmu. Kamu sendiri yang bisa mengubah nasibmu. Percaya diri adalah salah satu kunci keberhasilan.

Udah kaya Mario Teguh, belum?

1 comment: